Minggu, 06 Juni 2010

Toilet yang pandai

Toilet, bukanlah topik pembicaraan yang menarik. Bahkan bagi sebagian orang, membicarakan toilet mungkin merupakan hal yang menjijikkan. Itu sebabnya, berbicara tentang toilet atau kloset bukan sesuatu yang lazim dilakukan dalam suatu kegiatan bersosialisasi.

Tapi kali ini, saya tidak dapat menyembunyikan kekaguman saya terhadap toilet. Kali ini, saya tidak dapat menahan diri untuk tidak bercerita tentang toilet. Bukan karena toilet ini dilapisi oleh emas 24 karat atau bertaburkan berlian. Ini hanya toilet biasa. Tidak ada yang mewah. Dan toilet ini saya temukan di kamar kecil untuk publik, yang terdapat di kota Seoul dan Tokyo.


Kenapa toilet atau kloset ini begitu mengagumkan? Karena kloset ini tidak sekedar ramah lingkungan sebagaimana kloset modern yang terdapat di berbagai kamar kecil di tanah air, dengan pilihan volume air yang digunakan untuk flush. Kloset ini menawarkan kenyamanan yang lebih bagi si pengguna.


Berbagai kenyamanan ini, yang diatur oleh suatu panel kontrol yang terdapat di sisi kanan tempat duduk, antara lain berupa air pembilas yang hangat. Sangat cocok digunakan pada saat cuaca sedang dingin. Tekanan siraman air juga dapat diatur sesuai keinginan. Hal lain yang juga memberi rasa nyaman adalah tempat duduk kloset yang dapat dihangatkan. Dengan demikian, pengguna terhindar dari kejutan rasa dingin saat kulit menyentuh permukaan tempat duduk. Tidak berhenti di situ, angin untuk mengeringkan juga disediakan, sebagai alternatif dari tisu.



Di Tokyo, kloset yang ada bahkan menawarkan fasilitas berupa ‘musik’ seperti suara flush, yang dapat digunakan apabila si pengguna tidak ingin bunyi-bunyi yang muncul saat melakukan kegiatan di toilet, didengar oleh orang lain. Biasanya fitur ini terdapat di kloset wanita. Alkisah, wanita Jepang pada umumnya tidak ingin suara yang timbul pada saat buang air kecil terdengar orang lain, sehingga fitur ini diciptakan untuk menghindari pemborosan air akibat penyiraman yang berkali-kali guna menutupi bunyi yang timbul.


Jelas,toilet ini bukan sembarang toilet. Toilet ini adalah toilet yang pandai melayani sang pengguna, sehingga ia merasa diperlakukan istimewa layaknya seorang raja atau ratu :).


Sungguh pengalaman bertoilet yang menyenangkan.

Jumat, 04 Juni 2010

Aku, Diriku dan Ketinggian

Dalam usia yang semakin tidak terbilang muda, hidup seperti memiliki makna baru. Banyak hal-hal kecil, yang dulu tak pernah terpikirkan olehku, rasanya ingin sekali kulakukan. Entahlah, mungkin aku hanya ingin melakukan apa yang kumau. Dalam sebuah diskusi “sex and the city” dengan sesama sahabat paruh baya yang memiliki masalah sama, kami sempat mengungkap rasa itu. Masing-masing dari kami ingin melakukan sesuatu yang dari dulu tidak berani dilakukan.

Buatku, salah satu hal yang selalu membayangi adalah ketakutanku pada ketinggian. Sejak kecil aku selalu gamang berada di tempat tinggi. Oleh karenanya, kepada para sahabat kukatakan bahwa aku bertekad untuk mengatasi rasa takut itu. Pokoknya aku harus berani, begitu pikirku.

Saat rekan kerja mengajak outbound yang menawarkan atraksi high rope, aku langsung setuju. Dengan membawa semangat kebersamaan, keakraban ataupun sekedar melakukan pencerabutan diri dari rutinitas pekerjaan, kamipun berangkat menuju Bandung. Dalam perjalanan, kami semua termenung dalam pikir masing-masing, entah apa yang dipikir. Namun dalam pikirku, keberangkatan outbound kali ini membawa misi tersendiri. Misi untuk menaklukkan rasa takut.



Seperti kebanyakan outbound lainnya, permainan yang ditawarkan umumnya ditujukan untuk mengasah logika berpikir, selain juga meningkatkan kemampuan bekerjasama. Tapi pikiranku hanya tertuju pada satu permainan. High rope. Bagiku, inilah sebuah permainan uji nyali. Mungkin untuk sebagian besar orang, permainan ini terasa ‘cemen’ (saya melihat betapa bergairahnya adek-adek berjalan di atas seutas tali pada ketinggian sekitar 5 meter di atas tanah). Dengan ringannya mereka menggerakkan badan, merambat perlahan, hanya berpijak pada tali tambang. Tapi bagiku, menjalani permainan ini seperti menjalani siksaan. Beban berat menggantung selama sekian tahun kehidupanku. Rasanya ingin kulawan, tapi apa daya ketakutan lebih mencekam. Di luar, aku tampak tenang. Namun andai mereka tahu betapa berkecamuknya dadaku ini melihat tali 5 meter di atas tanah.

Saat menunggu giliran untuk berjalan di atas tali, jantung makin berdegub kencang. Seolah detak jantung di dalam sana bisa terasa sampai ke ujung kepala dan kaki. Badan seperti tidak bertulang. Lunglai. Tangan dingin, seolah darah berhenti mengalir. Di tengah antrian menaiki high rope, ketakutan itu makin besar. Sempat terbersit pikiran untuk mengurungkan niat. Tapi rasanya tidak tega juga mempermalukan diri, setelah berdiri dalam antrian sekian lama, apalagi saat ujung tali telah ada di depan mata. Akhirnya, kupejamkan mata, dan berusaha membulatkan tekad. Yang ada di kepala hanya gaung niat keberangkatanku. Gema itu makin lama makin keras.

Aku pun mulai memberanikan diri untuk menaruh kaki di atas tali. Langkah pertama penuh keraguan. Tali pegangan yang menggantung kugenggam erat, seolah tak mau lepas. Saat kaki melangkah, dunia seperti berguncang. Tidak berani aku melihat ke bawah. Aku hanya menatap lurus ke depan, sambil terus bergumam “aku bisa…aku bisa”. Perlahan kaki kugerakkan meniti tali. Tapi setiap langkah seperti menambah kuat goyangan, tali pijakan seperti tidak mau tinggal diam. Pemandangan ini rupanya menjadi semacam hiburan bagi penonton di bawah. Para penonton pun tergugah untuk menyanyikan lagu “Goyang Duyu-Project Pop” (dalam hati aku berterima kasih, karena teriakan dan nyanyian mereka seperti menemani ‘perjalanan’ ku). Langkah demi langkah aku tapaki. Semakin jauh kumelangkah, kepercayaan diri pun mulai terbangun. Rasa takut yang amat sangat mulai mereda sedikit demi sedikit. Aku semakin berani untuk menggerakkan badan. Gapaian tangan pun semakin yakin mencari tali berikutnya dan melepas tali sebelumnya. Akhirnya sampai juga aku di ujung tali. Legaaaaa banget rasanya, walaupun tangan terasa seperti baru memegang es. Dingin dan merah.

Membaca cerita di atas, mungkin orang heran. Yup!. Dalam umurku saat ini, belum pernah sekalipun aku melakukan permainan di ketinggian. Selama ini, permainan semacam itu selalu aku hindari. Dengan berbagai dalih, aku berhasil mengelak. Tidak lain tidak bukan, itu hanya karena aku takut. Begitu kuatnya ketakutan itu menghantui hati dan pikiran ini,sehingga aku tak berani melakukannya. Kali ini, aku cukup bangga dengan diriku sendiri. Kali ini, saat diri sudah semakin jauh dari kanak-kanak, aku bisa mengalahkan ketakutan itu. Bahkan pada akhirnya aku mendapati diri menikmati pengalaman baru tersebut. Mengutip kata-kata seorang sahabat, kadang kita enggan melakukan sesuatu di luar kebiasaan, mungkin karena kenyamanan kita akan kebiasaan itu. Namun setelah kita melakukan hal baru tersebut, ternyata bisa menjadi sangat menyenangkan.


Pada akhirnya outbound kali ini memberi pelajaran berharga bagiku. Bahwa benar, langkah pertama adalah yang tersulit. First step is the hardest. Tapi, seorang bijak berkata, thousand miles journey begin with a single step. Mudah-mudahan pengalamanku dalam outbound kali ini bisa mendorongku untuk berani melakukan “langkah-langkah pertama” lainnya. Berani mengalahkan ketakutan-ketakutan lainnya. Outbound kali ini juga mengajarkanku untuk tidak sungkan mencoba sesuatu yang lain dari kebiasaan selama ini. Karena kita tidak akan pernah tahu, pengalaman apa yang akan kita dapat. Bisa tidak mengenakkan. Tapi sebaliknya, bisa juga sangat menyenangkan. Hingga membuat hidup lebih berwarna.

Rabu, 02 Juni 2010

Bila wartawan memimpin RDG (tulisan seorang sahabat tentang potongan perjalanan hidup)

Apa jadinya bila pengambilan keputusan BI Rate diserahkan pada wartawan? Apa jadinya bila bahan RDG dianalisis oleh wartawan? Mungkin saja akan tampak absurd, karena bahan itu kelihatannya rumit dan canggih. Tapi hal itu terjadi saat pelatihan wartawan media cetak dan elektronik di Mataram tanggal 12 November 2009 lalu. Pelatihan wartawan media massa se-NTB tersebut dilakukan di Pantai Kuta, Lombok Tengah. Pelatihan dibuka oleh Iwan Triady, Deputi PBI Mataram.

Pembicara pelatihan dari Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter (DKM) BI Jakarta, dilakukan oleh Clarita Ligaya Iskandar yang memperkenalkan metode pelatihan wartawan berupa “role play” pengambilan keputusan kebijakan moneter. Alih-alih melakukan penjelasan klasikal yang umum dan satu arah, Clarita lebih berperan sebagai instruktur dalam memberikan “permainan peran” pada wartawan. Setelah sebelumnya diberikan background mengenai perkembangan ekonomi terkini, peran dan fungsi BI, kebijakan moneter, serta proses pengambilan keputusan di RDG, kepada para wartawan dibagikan soal simulasi berupa assesment perekonomian terkini, layaknya bahan RDG. Wartawan pun dibagi ke dalam beberapa kelompok, lalu diminta melakukan “RDG”, sebelum memutuskan tingkat BI Rate. Hal-hal yang harus dipikirkan oleh para wartawan adalah, tingkat pertumbuhan, risiko bagi pencapaian inflasi ke depan, serta stabilitas sistem keuangan dan eksternal.


Waktu RDG ditentukan selama 15 menit, dan usai RDG mereka diminta menunjuk seorang “Gubernur” untuk melakukan press conference. Ternyata, dalam waktu singkat para wartawan telah mampu berakting layaknya DG bank sentral. Keputusan yang ditempuh dan analisis yang diambil juga tak kalah canggihnya dibandingkan bank sentral sebenarnya.
Saat kita menyampaikan sebuah pesan, pemilihan media penyampaian menjadi penting. Bukan hanya “message”nya, tapi juga media-nya. Mengutip Marshall McLuhan, seorang ahli komunikasi, hal ini karena media adalah pesan itu sendiri. Dalam pelatihan, ataupun diseminasi kebijakan, upaya mencari media yang tepat pada stakeholders yang tepat sama pentingnya dengan “message” itu sendiri.

Metode “role play” adalah salah satu cara penyampaian pesan melalui media alternatif. Metode ini mendapat tanggapan yang baik dari kalangan media massa di Mataram. Deo, wartawan Patrol Post Mataram mengatakan bahwa dengan ikut role play ini ia justru lebih memahami bagaimana Dewan Gubernur BI di Jakarta bekerja. Sementara, wartawan TVRI Lombok lainnya, mengatakan bahwa metode “role play” ini merangsang mereka untuk berpikir sehingga tidak mengantuk. Akhirnya mereka justru mendapat banyak ilmu baru.

Berkemah di Tanakita : mengenang patahan masa lalu

Benar juga yang dikatakan oleh seorang sahabat. Bahwa seiring dengan bertambahnya usia, kita semakin gemar mengenang masa lalu. Masa di kala usia kita masih terbilang muda. Saat itu menjalani hidup lebih terasa seperti berada di arena bermain. Tak terlalu banyak yang dipikirkan. Sekolah, bermain, dan sesekali berpetualang.

Maka saat kakak saya dan keluarganya mengajak untuk berkemah, adrenalin saya seperti terpompa. Berkemah? Rasanya sudah lebih dari 20 tahun sejak terakhir kali saya melakukannya. Walaupun saya tidak tergolong maniak aktifitas outdoor, paling tidak saya pernah melakukannya :). Dan demi masa lalu, saya pun bersemangat mengiyakan ajakan tersebut. Apakah ini pertanda bahwa saya menua? Ntah lah. Tapi yang saya tahu, saya ingin sekali melakukannya.



Kami pun sepakat untuk berangkat di suatu akhir pekan menuju daerah Sukabumi. Daerah yang kami tuju adalah taman hutan lindung Situ Gunung. Karena tepat di pinggir hutan lindung tersebut terdapat lokasi perkemahan Tanakita. Dikelilingi oleh rangkaian pohon pinus, dengan pemandangan desa, kebun sayur mayur, dan gunung Gede di kejauhan, tempat ini terasa begitu pas untuk mendekat dengan alam.

Udara yang sejuk di kaki gunung, jauh dari hingar bingar- hiruk pikuk manusia dan segala jenis kendaraan, menjadikan menit ke menit berlalu dengan begitu indahnya. Sore hari kami lewati sembari berbincang, bersenda gurau dan menikmati minuman bandrek hangat dan pisang goreng keju. Saat malam tiba, tidak lupa kami melakukan acara wajib saat berkemah. Meriung di sekitar api unggun. Menghangatkan badan sembari menikmati jagung bakar. Bernyanyi dengan iringan gitar, sambil menikmati indahnya malam di ketinggian daerah Sukabumi. Tidur di dalam kemah pun terasa begitu nyaman, diiringi oleh bunyi jangkrik dan kerlap kerlip sang kunang-kunang. Malam pun berlalu dengan sangat menyenangkan.

Keesokan harinya, saat embun masih menyelimuti pagi, kami terjaga. Pagi itu kami akan melakukan suatu perjalanan. Menembus hutan, menuju air terjun yang tersohor di daerah itu. Curug Sawer. Dengan dipandu oleh dua orang penunjuk jalan, kami menapaki jalan sempit di antara semak dan pepohonan tinggi di dalam hutan lindung. Mendaki-menuruni jalan berbatu, yang tidak jarang, licin dan terjal. Kami bahkan harus menyeberangi aliran air gunung sepanjang kurang lebih 15 meter, yang rasanya dingin tidak kepalang. Kaki ini seperti mati rasa saat melintas di air. Tapi, kami terus berjalan, dengan hati berbunga-bunga :).

Akhirnya, setelah dua jam berjalan, kami pun sampai di curug. Pantas saja banyak orang rela berjalan kaki jauh-jauh untuk melihat air terjun ini. Indah sekali. Mengalir deras dari ketinggian sekitar 30 meter. Lembutnya hijau dedaunan, ’garangnya’ bebatuan dan tumpahan air seperti menyatu, menyajikan pemandangan yang begitu indah. Gemericik air seperti alunan lagu alam, di tengah kesunyian hutan.

Setelah puas bermain dan beristirahat sejenak, kami berjalan kembali ke perkemahan. Petualangan kami pun berakhir.

Terlepas dari rasa penat yang mendera, hati ini terasa begitu ringan, dipenuhi oleh rasa suka cita. Rasa senang yang timbul tidak hanya karena merasakan kedekatan dengan alam dan segala keindahannya, tetapi juga akibat 'perjalanan' melalui lorong waktu kembali ke masa lalu.



Beberapa catatan seputar kegiatan berkemah ini.
Bagi orang yang pernah mendengar ataupun datang ke lokasi Tanakita Camping Ground, tentunya tersenyum. Karena tempat ini tidak seperti bumi perkemahan pada umumnya. Bahkan tagline pengelola adalah ”five stars camp.. for urbanities wishing to explore the outdoors, without sacrificing the comforts of home”. Dan ternyata benar. Dikelola oleh Rakata, Tanakita layaknya perkemahan dengan kualitas pelayanan hotel berbintang.


1. Saat tiba di lokasi perkemahan, kami tidak perlu bersusah payah mendirikan tenda tempat bernaung. Karena tenda telah berdiri kokoh, dengan dua bilik tidur didalamnya, lengkap dengan bantal dan kasur yang dilapisi oleh sarung dan sprei putih bersih dan harum. Tidak ketinggalan, untuk menambah kenyamanan, terdapat ruang diantara kedua bilik untuk tempat bercengkerama.
2. Jika ingin membersihkan badan ataupun melakukan ritual lainnya, tidak perlu bersusah payah mencari sungai. Kamar mandi hanya berjarak sekitar 20 meter dari tenda. Tidak kalah dengan kamar mandi yang ada di hotel berbintang. Toilet bersih dan jauh dari aroma tidak enak. Bilik mandi lengkap dengan shower untuk air panas. Sangat nyaman.
3. Saat malam tiba, makan malam tersaji di tenda makan. Jangan bayangkan menu makan saat berkemah masa muda dulu, yang biasanya tidak jauh dari mie rebus. Kali ini makanan disajikan paling tidak dalam enam variasi menu. Udang goreng tepung, ikan gurame goreng garing, bakso kuah, merupakan sebagian dari menu yang tersedia. Begitu kaya akan protein dan vitamin.
4. Kami tidak perlu bersusah payah membuat api unggun, karena api unggun telah disiapkan oleh pengelola. Bahkan, dua orang pemain gitar, yang khusus dipanggil dari Sukabumi, beserta seorang penabuh bongo, siap melayani permintaan lagu. Berbagai jenis lagu sejak era 80-an hingga terkini berkumandang indah, lewat suara merdu si pemain gitar maupun seorang tamu wanita yang memiliki suara renyah.

Bagi para penganut aliran keras aktifitas outdoor, mungkin saja kegiatan kami kali ini tidak dapat dikategorikan sebagai berkemah. Tapi, siapa yang perduli :). Misi saya, untuk mengenang potongan masa lalu, telah tercapai.

Sabtu, 29 Mei 2010

Sakura : kecantikan sesaat yang tak terpermanai

Bagi saya, Tokyo bukanlah kota tujuan wisata favorit. Terlepas dari keindahan gunung Fuji yang simetrikal, kuil-kuil tua yang kental dengan aura permenungan, hingga dandanan eksentrik anak muda Harajuku, dan segala gadget mutakhir ataupun kreatifitas yang nyeleneh, Tokyo adalah kota yang sesak. Padat dengan manusia yang lalu lalang seperti robot, tanpa ekspresi. Berada di tengah kerumunan orang-orang ini, rasanya seperti kadar oksigen di muka bumi mendadak menipis.

Tapi diantara segala kelebihan dan kekurangannya, kota ini menyimpan satu keindahan yang tidak dapat diabaikan. Sakura. Keindahan bunga, yang hanya muncul beberapa hari dalam setahun, sudah begitu terkenal di seantero jagad. Dan dalam umur yang sudah tidak terbilang muda ini, belum pernah sekalipun saya menyaksikan kecantikan sang bunga secara langsung.

Aura indah bunga ini pula yang mendorong saya untuk kembali mengunjungi kota Tokyo di musim semi tahun ini. Saat sakura baru saja merekah.

Bersama para sahabat, kami memutuskan untuk menikmati keindahan Sakura di Taman Ueno. Saat sakura bersemi, taman ini kerap dikunjungi oleh penduduk lokal maupun pendatang, karena jajaran pohon sakura-nya yang membentuk barisan keindahan yang seolah tak berujung.

Pertama kali saya memandangnya, terbersit rasa kagum. Rupanya, desas desus yang beredar selama ini benar adanya. Sakura memang indah. Meskipun apabila dilihat secara individu, tidak ada yang spesial dengan bunga ini. Dengan warna putih semburat merah jambu, kelopak bunga ini sangat rapuh. Mudah rontok saat tertiup angin atau tertimpa rintik hujan. Secara satuan, sakura sama saja dengan bunga-bunga lainnya. Tapi saat bergerombol membentuk kanopi pohon berwarna putih, sakura menyajikan pemandangan yang sangat indah. Tak terpermanai.

Kata sakura (桜, 櫻) berasal dari kata “saku”, yang dalam bahasa Jepang berarti mekar. Bagi masyarakat Jepang, bunga ini seringkali diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, juga ikatan antarmanusia. Bunga ini juga menjadi metafora terhadap kehidupan yang tidak kekal. Itu sebabnya sampai saat ini masyarakat Jepang masih merayakan berseminya sakura dengan melakukan tradisi hanami atau piknik beramai-ramai di bawah pohon.



Pengalaman menikmati keindahan sakura akan senantiasa terkenang sepanjang hidup. A lifetime experience.






Mencicipi bulgogi yang asli

Dalam suatu perjalanan ke Seoul, saya berkesempatan mencicipi salah satu makanan khas Korea yaitu bulgogi. Kesan pertama saya mencicipi bulgogi di tanah Korea adalah rasanya yang jelas berbeda dengan bulgogi yang biasa disajikan di resto jakarta. Ntah karena saya yang agak sentimental terbawa suasana, atau memang benar-benar berbeda, tapi rasa bulgogi di Seoul menurut saya sangat luar biasa. Beyond expectation. The best bulgogi i’ve ever tasted.

Cara penyajian dan proses memasaknya saja sudah berbeda. Di sana, tempat memanggang daging seperti piring (plat metal) dengan’parit’ di sekelilingnya. Parit tersebut dituangi air kaldu daging sapi. Kemudian, daging sapi mentah, yang telah diberi bumbu dan dicampur dengan banyak daun bawang, ditaruh di bagian tengah dari plat masak. Setelah matang, daging ditaruh dalam selembar daun selada, diberi bumbu, dan irisan bawang putih mentah (jika suka). Atau pilihan lain, daging yang telah masak dapat langsung dimakan dengan nasi hangat. Sangat lezat, dengan rasa manis yang pas.


Yang menarik , dan berbeda dengan restoran Korea yang pernah saya coba di Jakarta, adalah tambahan sup yang didapat dari air kaldu yang dituang di ‘parit’ plat masak itu. Saat memasak daging, air kaldu bercampur dengan bumbu yang mengalir keluar dari daging yang dipanggang. Jadilah sup yang rasanya luar biasa enak. Gurih dan manis.

Belum cukup sampai di situ, telur mentah dimasukkan ke dalam air kaldu, menjadi satu lagi sajian yang nikmat. Tiga jenis makanan dalam satu proses masak memasak.
Mencicipi bulgogi di negara asalnya adalah suatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Unforgettable !



In search for Namdaemun Gate : sebuah catatan perjalanan

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Seoul. Banyak teman yang sudah pernah menikmati kota ini lebih dahulu. Ada yang memberi kesan menyenangkan, ada juga yang biasa-biasa aja. Tapi, dengan berbekal buku panduan yang dipinjamkan oleh seorang teman, maka di suatu sabtu malam bulan Maret yang lalu, saya berangkat dengan semangat untuk mendapatkan pengalaman baru.


Hari pertama di Seoul, saya berniat memulai petualangan dengan mencari Namdaemun Gate. Karena setiap kali membaca travelguide, landmark gerbang Namdaemun sepertinya merupakan salah satu a-must-see site di ibukota Korea Selatan ini. Gerbang yang dibangun pada tahun 1395, saat King Taejo dari Dinasti Joseon berkuasa, terbuat dari kayu dan batu, dengan atap dua tingkat berbentuk pagoda. Pada masanya, gerbang ini merupakan salah satu dari tiga gerbang utama yan digunakan sebagai pintu masuk ke pusat kota. Pada tahun 1962, Namdaemun dijadikan sebagai harta nasional Korea Selatan.

Maka sore itu, dengan berbekal informasi yang didapat dari pelayan restoran (yang dengan susah payah menjelaskan rute jalan dalam bahasa inggris), saya pun mulai menyusuri jalan di tengah kota Seoul menuju Namdaemun.
Setelah berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit, sampailah saya di tempat yang kira-kira sesuai dengan gambaran si pelayan tadi. Tapi, kenapa tidak ada sedikitpun terlihat gerbang ataupun petunjuk tentang gerbang. Yang langsung ada dipikiran saat itu adalah saya kesasar.


Orang pertama, dengan muka paling bersahabat, yang lewat pun langsung saya cegat. Dalam bahasa Korea, laki-laki itu berusaha menerangkan, sambil menunjuk ke satu gedung yang berbentuk seperti hanggar, terletak sekitar 100m dari tempat kami berdiri. Karena tidak mengerti sepatah katapun yang diucapkan, saya hanya bisa berpikir bahwa mungkin saja gerbang Namdaemun berada di balik ‘hanggar’ itu. Saya pun berjalan mendekat. Sesampai di depan ‘hanggar’, masih belum juga terlihat tanda-tanda adanya bangunan yang saya cari. Di balik ‘hanggar’, sejauh mata memandang, hasilnya tetap sama.



Dengan rasa penasaran, saya kembali mencegat orang lokal yang ada di sekitar tempat itu. Kali ini, untungnya, sepasang suami istri yang kebetulan lewat bisa berbahasa inggris. Dan sang suami dengan lancarnya bercerita bahwa dalam ‘hanggar’ itu lah gerbang Namdaemun terletak. Setelah saya bolak balik mencari, ternyata bangunan yang saya tuju ada di depan mata sedari tadi.
Rupanya beberapa tahun yang lalu, gerbang Namdaemun dibakar oleh seorang pria, sebagai tandai protes atas ketidakadilan yang dirasakan. Alhasil, bagian atap dari salah satu ikon negara ini terbakar, dan saat ini sedang dalam tahap restorasi.

Yaah.. apa boleh buat. Saat ini saya hanya bisa cukup puas melihat ‘hanggar’ gerbang Namdaemun. Sesi pemotretan yang sudah diangan-angankan sejak awal, gagal sudah. Tapi rasanya kekecewaan saya karena tidak dapat melihat gerbang Namdaemun tidak sebanding dengan kesedihan rakyat Korea Selatan yang harus menyaksikan rusaknya bangunan bersejarah bagi mereka, dan pernah menjadi bangunan kayu tertua di Seoul.




“At approximately 8:50 p.m. on February 10, 2008, a fire broke out and severely damaged the wooden structure at the top of the Namdaemun gate. The fire roared out of control again after midnight and finally destroyed the structure, despite the efforts of more than 360 firefighters. Many witnesses reported seeing a suspicious man shortly before the fire, and two disposable lighters were found where the fire was believed to have started. A 69-year-old man identified as Chae Jong-gi was arrested on suspicion of arson and then later confessed to the crime. A police captain reported that Chae sprayed paint thinner on the floor of the structure and then set fire to it. Police say that Chae was upset about not being paid in full for land he had sold to developers. The same man had been charged with setting a fire at Changgyeong Palace in Seoul in 2006” (cited from Wikipedia)