carikan pemikiran dan kata-kata kerap berserakan di atas awan-awan senja. terhembus pergi bersama angin malam. blog ini mencoba menautkan segala yang terhempas dalam tiupan waktu.
Sabtu, 04 September 2010
The Marmalade Pantry
Mencoba sesuatu hal yang baru adalah bagian dari petualangan. Kita tidak tahu, apakah sesuatu yang baru itu akan memberi pengalaman yang mengasyikan atau bahkan sebaliknya, menyebalkan. Tapi terlepas dari apapun hasilnya, petualangan selalu memberi kesan tersendiri. Pengalaman baru selalu berhasil memberi warna lain dalam lintasan kehidupan ini.
Salah satu jenis petualangan yang sangat saya nikmati adalah mencoba restoran baru- dalam artian restoran yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Dan di tengah menjamurnya restoran baru di ibukota, kali ini saya mencoba restoran The M
armalade Pantry. Terletak di lantai 1, Plaza Indonesia Extension, chain-resto yang berbasis di Singapura ini mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun lalu.
Resto ini mengusung menu makanan Barat sebagai sajian utama. Crab caesar salad, rib-eye steak sandwich with grilled onions, avocado and wasabi mayonnaise, linguini crabmeat with tomato chili and pine nuts, merupakan sebagian menu jagoan di resto ini. Chef recommendation. Tak hanya itu, resto ini juga menyajikan menu Asia, seperti salmon teriyaki with chilled soba dan beef teriyaki with butter rice.
Namun, kali ini, diantara deretan pilihan sajian, saya memilih untuk mencoba menu pasta aglio olio with turke
y bacon and mushroom. Simply karena menu ini direkomendasikan oleh sang pramusaji yang melayani kami :).
Berbicara soal makanan, sebenarnya saya termasuk penggemar makanan yang gurih. Kaya akan bumbu, jika perlu sedikit berlemak. Untuk pasta, saus krim kental dengan aroma keju, adalah menu favorit saya. Semakin kuat aroma keju, semakin deras air liur ini mengalir :).
Namun, di luar dugaan, sajian aglio olio di The Marmalade Pantry sungguh membuat saya terkesima. Jenis pasta yang minimalis ini tentunya tergolong jenis makanan yang berbeda dari kegemaran saya. Tapi kali ini, aglio olio yang dihidangkan di resto ini mampu memberi sensasi yang sama nikmatnya dengan aroma gurih saus keju. Ini aglio olio terenak yang pernah saya coba sampai saat ini. Meski diolah secara minimal, dengan campuran minyak zaitun, bawang putih dan daun parsley, pasta agio olio-nya terasa begitu pas. Gurih. Nikmat. The best aglio olio I've ever tasted.

Sajian lainnya yang tidak kalah nikmatnya adalah oyster blade steak served with mashed potato, spring vegetables and mushroom sauce. Dengan irisan tipis daging sapi Amerika yang lembut, dilumuri oleh saus jamur, hidangan ini begitu lezat. Tidak ketinggalan mashed potato-nya yang gurih, dengan campuran rasa butter yang pas.
Sungguh suatu petualangan kuliner yang menyenangkan. Meskipun harga sajian di resto ini terbilang tidak murah (Rp 80.000 hingga di atas Rp 100.000 per sajian), rasanya resto ini patut dicoba. Apalagi, desas desusnya, The Marmalade Pantry menyajikan menu dessert yang mampu menggoyang lidah dan membawa kita menuju ekstasi berkuliner.
Salah satu jenis petualangan yang sangat saya nikmati adalah mencoba restoran baru- dalam artian restoran yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Dan di tengah menjamurnya restoran baru di ibukota, kali ini saya mencoba restoran The M
armalade Pantry. Terletak di lantai 1, Plaza Indonesia Extension, chain-resto yang berbasis di Singapura ini mulai beroperasi sekitar pertengahan tahun lalu.Resto ini mengusung menu makanan Barat sebagai sajian utama. Crab caesar salad, rib-eye steak sandwich with grilled onions, avocado and wasabi mayonnaise, linguini crabmeat with tomato chili and pine nuts, merupakan sebagian menu jagoan di resto ini. Chef recommendation. Tak hanya itu, resto ini juga menyajikan menu Asia, seperti salmon teriyaki with chilled soba dan beef teriyaki with butter rice.
Namun, kali ini, diantara deretan pilihan sajian, saya memilih untuk mencoba menu pasta aglio olio with turke
y bacon and mushroom. Simply karena menu ini direkomendasikan oleh sang pramusaji yang melayani kami :).Berbicara soal makanan, sebenarnya saya termasuk penggemar makanan yang gurih. Kaya akan bumbu, jika perlu sedikit berlemak. Untuk pasta, saus krim kental dengan aroma keju, adalah menu favorit saya. Semakin kuat aroma keju, semakin deras air liur ini mengalir :).
Namun, di luar dugaan, sajian aglio olio di The Marmalade Pantry sungguh membuat saya terkesima. Jenis pasta yang minimalis ini tentunya tergolong jenis makanan yang berbeda dari kegemaran saya. Tapi kali ini, aglio olio yang dihidangkan di resto ini mampu memberi sensasi yang sama nikmatnya dengan aroma gurih saus keju. Ini aglio olio terenak yang pernah saya coba sampai saat ini. Meski diolah secara minimal, dengan campuran minyak zaitun, bawang putih dan daun parsley, pasta agio olio-nya terasa begitu pas. Gurih. Nikmat. The best aglio olio I've ever tasted.

Sajian lainnya yang tidak kalah nikmatnya adalah oyster blade steak served with mashed potato, spring vegetables and mushroom sauce. Dengan irisan tipis daging sapi Amerika yang lembut, dilumuri oleh saus jamur, hidangan ini begitu lezat. Tidak ketinggalan mashed potato-nya yang gurih, dengan campuran rasa butter yang pas.
Sungguh suatu petualangan kuliner yang menyenangkan. Meskipun harga sajian di resto ini terbilang tidak murah (Rp 80.000 hingga di atas Rp 100.000 per sajian), rasanya resto ini patut dicoba. Apalagi, desas desusnya, The Marmalade Pantry menyajikan menu dessert yang mampu menggoyang lidah dan membawa kita menuju ekstasi berkuliner.
Saya ingin kembali ke resto ini aah..
(taken from the Jakarta Post)
Sabtu, 14 Agustus 2010
Mencicipi Galette di Kitchenette
Dalam beberapa tahun belakangan ini, pancake menjadi menu makanan yang menjamur. Berbagai restoran di ibukota mengusung menu pancake sebagai menu andalan. Sebut saja diantaranya adalah Pancious, Pan'O, My Pancake dan banyak lagi resto lainnya yang menyajikan menu pancake. Resto-resto ini kerap padat dengan para penikmat makanan.
Dahulu, di masa kanak-kanak, pancake umumnya disajikan sederhana. Hanya dipadu dengan sirup mapple. Saat ini, pancake tidak lagi disajikan sesederhana itu. Pancake telah diolah sedemikian rupa menjadi hidangan yang sangat bervariasi. Tidak hanya dipadukan dengan makanan pendamping yang manis seperti es krim, aneka buah, dan sirup, pancake juga dapat disajikan bersama penganan asin seperti berbagai olahan daging, saus karbonara, dan banyak lagi variasi lainnya.
Bulan Mei yang lalu, ibukota Jakarta kembali diramaikan oleh dibukanya restoran baru. Dikelola oleh Ismaya Group, resto yang mengusung nama Kitchenette ini menyajikan variasi lain dari pancake. Resto ini punya menu andalan berupa galette, yaitu sejenis pancake tipis. Berbeda dengan crepes, yang terbuat dari tepung gandum biasa, galette terbuat dari jenis gandum buckwheat. Selain itu, galette umumnya disajikan dengan topping dengan rasa asin, tidak seperti crepes yang disajikan bagi para pecinta rasa manis.
Dahulu, di masa kanak-kanak, pancake umumnya disajikan sederhana. Hanya dipadu dengan sirup mapple. Saat ini, pancake tidak lagi disajikan sesederhana itu. Pancake telah diolah sedemikian rupa menjadi hidangan yang sangat bervariasi. Tidak hanya dipadukan dengan makanan pendamping yang manis seperti es krim, aneka buah, dan sirup, pancake juga dapat disajikan bersama penganan asin seperti berbagai olahan daging, saus karbonara, dan banyak lagi variasi lainnya.
Bulan Mei yang lalu, ibukota Jakarta kembali diramaikan oleh dibukanya restoran baru. Dikelola oleh Ismaya Group, resto yang mengusung nama Kitchenette ini menyajikan variasi lain dari pancake. Resto ini punya menu andalan berupa galette, yaitu sejenis pancake tipis. Berbeda dengan crepes, yang terbuat dari tepung gandum biasa, galette terbuat dari jenis gandum buckwheat. Selain itu, galette umumnya disajikan dengan topping dengan rasa asin, tidak seperti crepes yang disajikan bagi para pecinta rasa manis.Menu galette favorit di resto ini antara lain Edouard -dengan filling sauteed mushrooms, turkey ham, mozarella cheese, garlic mayo with greens, ataupun Arnaud dengan filling mini beef hamburgers, fried egg, dijon mustard sauce, swiss cheese and caramelized grilled onion. Ntah kenapa, menu galette ini mengambil nama laki laki Perancis. Sementara untuk berbagai sajian crepes yang manis, mengutip nama perempuan seperti Abigail, Claudette. 

Dalam kunjungan pertama ke Kitchenette, saya mencoba Edouard. Memang pantas, kalau menu ini diandalkan. Kombinasi antara rasa gurih-asin dari irisan daging ayam kalkun, jamur, keju, serta rasa manis yang pas dari lapisan tipis galette memberi sensasi yang sungguh nikmat.
Selain galette, resto ini juga menawarkan berbagai jenis penganan lainnya. Bagi penggemar penganan dengan cita rasa keju, baked truffle macaroni and cheese with turkey bacon, serta Uncle Raul's spanish meatballs with creamy beef chorizo layak untuk dicoba. Keju nya terasa begitu gurih. Membawa kita melayang :). Walaupun untuk kedua sajinan Eropa ini, saya menyarankan untuk dimakan secara berbagi (sharing), supaya rasa gurih keju tidak berlebihan. 

Pengalaman bersantap di Kitchenette ini juga diperkaya dengan suasana resto yang dibuat homey. Mengusung konsep dapur di rumah, lengkap dengan asesoris berbagai peralatan makan dan memasak, cutlery, serta rak berisi toples bahan makanan, sembari memandang para juru masak yang beraksi mengolah makanan di depan kita, Kitchenette menyajikan lingkungan bersantap yang nyaman dan unik.
Jumat, 23 Juli 2010
Minggu, 27 Juni 2010
Monas - taman hiburan rakyat
Bagi warga jakarta, Monas adalah bagian yang tidak terpisahkan. Ia merupakan ikon dari kota ini. Bahkan, gambar Monas selalu berada dekat dengan warga ibukota yang telah berusia 18 tahun ke atas. Kemanapun mereka pergi, dimanapun mereka berada :).Kali pertama mengunjungi Monas, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenangan itu masih melekat di ingatan. Memandang tugu yang menjulang tinggi bertahtakan 'api' berwarna keemasan. Masih terbayang saat memasuki ruangan di bawah tugu, melihat diorama tentang sejarah negeri. Ruangan yang sejuk dengan pendingin ruang. Rapih dan bersih.
Setelah 30 tahun berlalu, saya kembali mengunjungi Monas. Namun, kali ini pengalaman yang saya lalui agak berbeda.
Kali ini, kesan yang didapat saat memasuki ruangan di bawah tugu tidak lagi sama. Ruangan ini penuh sesak dengan pengunjung. Sebagian dari mereka asyik melihat diorama yang berjajar rapi di setiap sisi ruangan. Tapi, tidak sedikit pengunjung yang duduk-duduk di lantai. Mengaso dan mendinginkan badan setelah diterpa teriknya matahari dan panasnya udara kota Jakarta. Sebagian orang menyantap makanan yang dibawa, layaknya berpiknik. Bahkan ada sekelompok anak kecil yang bermain bola di dalam ruangan. Ntah saya yang salah atau bagaimana, tapi rasanya ada yang janggal dengan pemandangan ini. Kenyamanan rasanya terusik. Ruangan terasa sumpek.
Tanpa bermaksud untuk memprotes kenyamanan bertamasya ala warga Jakarta, tapi rasanya wisata ke Monas kali ini tidak lagi sesuai dengan gambaran masa kecil-ku.
Sigh...
Jumat, 25 Juni 2010
Senin, 21 Juni 2010
Langganan:
Postingan (Atom)








