Sabtu, 14 Agustus 2010

Mencicipi Galette di Kitchenette

Dalam beberapa tahun belakangan ini, pancake menjadi menu makanan yang menjamur. Berbagai restoran di ibukota mengusung menu pancake sebagai menu andalan. Sebut saja diantaranya adalah Pancious, Pan'O, My Pancake dan banyak lagi resto lainnya yang menyajikan menu pancake. Resto-resto ini kerap padat dengan para penikmat makanan.


Dahulu, di masa kanak-kanak, pancake umumnya disajikan sederhana. Hanya dipadu dengan sirup mapple. Saat ini, pancake tidak lagi disajikan sesederhana itu. Pancake telah diolah sedemikian rupa menjadi hidangan yang sangat bervariasi. Tidak hanya dipadukan dengan makanan pendamping yang manis seperti es krim, aneka buah, dan sirup, pancake juga dapat disajikan bersama penganan asin seperti berbagai olahan daging, saus karbonara, dan banyak lagi variasi lainnya.


Bulan Mei yang lalu, ibukota Jakarta kembali diramaikan oleh dibukanya restoran baru. Dikelola oleh Ismaya Group, resto yang mengusung nama Kitchenette ini menyajikan variasi lain dari pancake. Resto ini punya menu andalan berupa galette, yaitu sejenis pancake tipis. Berbeda dengan crepes, yang terbuat dari tepung gandum biasa, galette terbuat dari jenis gandum buckwheat. Selain itu, galette umumnya disajikan dengan topping dengan rasa asin, tidak seperti crepes yang disajikan bagi para pecinta rasa manis.


Menu galette favorit di resto ini antara lain Edouard -dengan filling sauteed mushrooms, turkey ham, mozarella cheese, garlic mayo with greens, ataupun Arnaud dengan filling mini beef hamburgers, fried egg, dijon mustard sauce, swiss cheese and caramelized grilled onion. Ntah kenapa, menu galette ini mengambil nama laki laki Perancis. Sementara untuk berbagai sajian crepes yang manis, mengutip nama perempuan seperti Abigail, Claudette.

Dalam kunjungan pertama ke Kitchenette, saya mencoba Edouard. Memang pantas, kalau menu ini diandalkan. Kombinasi antara rasa gurih-asin dari irisan daging ayam kalkun, jamur, keju, serta rasa manis yang pas dari lapisan tipis galette memberi sensasi yang sungguh nikmat.
Selain galette, resto ini juga menawarkan berbagai jenis penganan lainnya. Bagi penggemar penganan dengan cita rasa keju, baked truffle macaroni and cheese with turkey bacon, serta Uncle Raul's spanish meatballs with creamy beef chorizo layak untuk dicoba. Keju nya terasa begitu gurih. Membawa kita melayang :). Walaupun untuk kedua sajinan Eropa ini, saya menyarankan untuk dimakan secara berbagi (sharing), supaya rasa gurih keju tidak berlebihan.








Pengalaman bersantap di Kitchenette ini juga diperkaya dengan suasana resto yang dibuat homey. Mengusung konsep dapur di rumah, lengkap dengan asesoris berbagai peralatan makan dan memasak, cutlery, serta rak berisi toples bahan makanan, sembari memandang para juru masak yang beraksi mengolah makanan di depan kita, Kitchenette menyajikan lingkungan bersantap yang nyaman dan unik.


Minggu, 27 Juni 2010

Monas - taman hiburan rakyat

Bagi warga jakarta, Monas adalah bagian yang tidak terpisahkan. Ia merupakan ikon dari kota ini. Bahkan, gambar Monas selalu berada dekat dengan warga ibukota yang telah berusia 18 tahun ke atas. Kemanapun mereka pergi, dimanapun mereka berada :).

Kali pertama mengunjungi Monas, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kenangan itu masih melekat di ingatan. Memandang tugu yang menjulang tinggi bertahtakan 'api' berwarna keemasan. Masih terbayang saat memasuki ruangan di bawah tugu, melihat diorama tentang sejarah negeri. Ruangan yang sejuk dengan pendingin ruang. Rapih dan bersih.

Setelah 30 tahun berlalu, saya kembali mengunjungi Monas. Namun, kali ini pengalaman yang saya lalui agak berbeda.

Kali ini, kesan yang didapat saat memasuki ruangan di bawah tugu tidak lagi sama. Ruangan ini penuh sesak dengan pengunjung. Sebagian dari mereka asyik melihat diorama yang berjajar rapi di setiap sisi ruangan. Tapi, tidak sedikit pengunjung yang duduk-duduk di lantai. Mengaso dan mendinginkan badan setelah diterpa teriknya matahari dan panasnya udara kota Jakarta. Sebagian orang menyantap makanan yang dibawa, layaknya berpiknik. Bahkan ada sekelompok anak kecil yang bermain bola di dalam ruangan. Ntah saya yang salah atau bagaimana, tapi rasanya ada yang janggal dengan pemandangan ini. Kenyamanan rasanya terusik. Ruangan terasa sumpek.

Belum berhenti di situ. Pengalaman bertamasya ke Monas, juga dilengkapi oleh pengalaman lucu lainnya. Hmm..ntah lebih tepat disebut lucu atau menjijikkan. Saat berjalan di seputar tugu, anak laki-laki saya, dengan semangat bereksplorasinya, menjelajahi taman yang berada di sekeliling tugu. Hingga di salah satu sudut taman, dibalik tanaman teh-tehan yang dipangkas rapi, ia terlihat bingung. Rupanya ia menginjak kotoran. Dan rasanya, binatang tidak akan bersusah payah mencari tempat tersembunyi untuk sekedar membuang air besar.

Tanpa bermaksud untuk memprotes kenyamanan bertamasya ala warga Jakarta, tapi rasanya wisata ke Monas kali ini tidak lagi sesuai dengan gambaran masa kecil-ku.
Sigh...


Sabtu, 19 Juni 2010

Di Museum Wayang, Aku Terpana

Usai mengunjungi Museum Sejarah Jakarta, kami memutuskan untuk mampir di museum lainnya di daerah Kota. Museum Wayang.

Berbeda dengan pengalaman di Museum Sejarah Jakarta, saat menginjakkan kaki di dalam gedung museum ini saya terpana. Setelah melalui pengalaman yang kurang mengenakkan di Museum Sejarah Jakarta, memasuki Museum Wayang seperti berpindah dari losmen tak terurus ke hotel berbintang lima. Bagaikan langit dan bumi.

Museum Wayang tertata sungguh apik. Memasuki gedung museum, pengunjung dihadapkan pada pemandangan yang sungguh menarik di mata. Lorong panjang dengan pendaran cahaya kuning menyoroti deretan wayang di kedua sisi lorong. Wayang golek ditempatkan sedemikian rupa sehingga menggambarkan penggalan cerita Ramayana.

Interior ruangan pun turut menunjang keindahan. Kombinasi antara kontemporer dan etnik, terlihat dari lemari display bergaya minimalis dengan lampu-lampu gantung berdesain kontemporer, dipadu dengan lantai batu yang kental bernuansa alam.

Melangkah lebih jauh ke dalam gedung, terdapat selasar penghubung antara ruang depan dan ruang belakang yang, lagi-lagi, tertata apik. Di sisi kanan selasar terdapat taman hijau berdinding bata. Bangku kayu panjang diletakkan di lorong. Konon, di taman ini, terdapat sisa peninggalan bangunan gedung gereja Belanda. Di sini juga terletak makam dari Jan Pieterzoon Coen, sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang mendirikan kota Batavia.

Museum ini menyimpan sekitar 5.000 benda koleksi. Wayang golek Jawa Barat, wayang kulit Jawa Tengah dan Bali, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, merupakan sebagian dari koleksi yang dipamerkan. Museum ini juga menyimpan koleksi berbagai boneka dan topeng. Ada boneka Betawi, replika boneka Si Gale-Gale dari Sumatera Utara, hingga boneka si Unyil dkk. Koleksi wayang dan boneka juga diperkaya dengan wayang dari India, Kamboja, Malaysia, Vietnam, serta koleksi boneka dari Amerika, Rusia, Polandia, Cina dan lain sebagainya.

Berbagai benda koleksi tersebut ditaruh dalam lemari kaca yang diberi lampu sorot yang terang. Kesemua koleksi ini menjadi semakin menarik karena tertata dengan rapih, dan didukung oleh ruangan yang bersih dan apik. Meski ruangan tidak menggunakan pendingin ruangan, tapi ruangan yang apik seperti menghilangkan rasa dari udara yang panas.


Tapi, ada satu kekurangan dari museum ini. Tidak semua keterangan display dilengkapi dengan bahasa inggris. Padahal selama kunjungan satu jam di museum ini, beberapa kali saya berpapasan dengan turis asing. Ah sayang sekali rasanya. Segalanya sudah terlihat indah, namun masih ada sedikit yang terlewati, yaitu kenyamanan bagi para tamu mancanegara.


Terlepas dari sedikit kekurangan itu, hati kami tetap terhibur melihat keindahan museum ini. Seandainya semua museum di tanah air bisa ditata seapik Museum Wayang.

Museum-ku sayang, museum-ku malang


"If you want to understand today, you have to search yesterday" ~Pearl Buck


Hari ini saya baru tersadar. Ternyata, berbagai sudut kota Jakarta banyak dihiasi oleh banner yang bertuliskan "Gerakan Nasional Cinta Museum". Rupanya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mencanangkan tahun 2010 sebagai Tahun Kunjung Museum (Visit Museum Year). Dengan slogan "Museum di hati-ku", masyarakat diajak untuk mencintai museum, yang tentunya dapat diartikan lebih lanjut, sebagai ajakan mencintai sejarah atau warisan budaya bangsa.

Maka, dalam liburan sekolah kali ini saya mengajak anak-anak untuk mengunjungi museum. Ada banyak museum di kota Jakarta. Tapi kali ini kami memilih museum Sejarah jakarta sebagai tempat untuk bersentuhan dengan masa lalu.

Museum Sejarah Jakarta, atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Fatahillah, terletak di daerah Kota. Museum ini menempati bangunan yang memiliki sejarah panjang. Dibangun pada tahun 1707, bangunan bergaya arsitektur barok klasik ini pada awalnya digunakan sebagai Balai Kota Batavia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Abraham van Riebeck. Setelah berganti peran beberapa kali, pada tahun 1968 gedung ini diserahkan pada Pemda DKI Jakarta, dan sejak tahun 1974 diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Museum ini menyimpan banyak benda peninggalan yang berkaitan dengan sejarah kota Jakarta. Mulai dari batu prasasti yang menandai pemukiman awal penduduk di sekitar kali Ciliwung di jaman kerajaan Tarumanegara di abad-5, hingga gambaran tentang kebudayaan Betawi. Museum ini juga menyimpan berbagai bukti kegiatan perdagangan antara Raja Sunda dan Portugis, termasuk Perjanjian Sunda Kalapa(yang menandai kerjasama antara kerajaan Sunda dengan Portugis, dimana pihak Portugis dimintai bantuan untuk membangun benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa, dan sebagai gantinya Raja Sunda menyerahkan 1000 karung lada setiap tahunnya kepada Raja Portugis).

Berbagai furnitur yang digunakan pada masa pendudukan Belanda di kota ini juga dipamerkan. Kursi-kursi panjang, tempat tidur, lemari, pemisah ruangan bergaya Baroque dari abad 18, hingga meja sidang (gedung ini pernah digunakan sebagai "Raad van Justitie" atau Dewan Pengadilan, pada masa pendudukan Belanda). Di halaman belakang museum, terdapat meriam si Jagur yang konon mempunyai kekuatan magis, patung Hermes-dewa Yunani-yang dipercaya sebagai pelindung bagi para pedagang dan pejalan kaki, serta penjara bawah tanah yang konon pernah dihuni oleh Pangeran Diponegoro.

Terlepas dari fungsinya sebagai tempat masyarakat mempelajari sejarah kota Jakarta, museum ini minim perawatan. Barang-barang yang dipamerkan terlihat kurang terpelihara. Di salah satu pojok ruangan, nampak lemari kayu kuno dengan salah satu daun pintu penutup lemari yang terkulai akibat engsel yang rusak. Padahal lemari ini berasal dari abad 17. Cukup menyedihkan.

Kenyamanan pengunjung museum nampaknya bukanlah prioritas. Lampu-lampu yang sedianya digunakan untuk menerangi barang display, banyak yang tidak berfungsi. Untuk melihat benda display yang berukuran besar mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Tapi sangat sulit untuk melihat detil dari benda-benda tersebut. Apalagi untuk membaca keterangan yang terletak disamping display. Dengan penyinaran yang minimal, rasanya mustahil untuk dapat membaca barisan kata-kata. Padahal niat ke museum tentunya tidak hanya untuk melihat benda bersejarah, tetapi juga untuk mengetahui cerita dibalik benda itu sendiri. Mau tidak mau, pengunjung harus mendekat ke papan keterangan, dan tidak jarang harus melewati tali pembatas (rasanya hal ini tidak mungkin dilakukan pada saat kita mengunjungi museum di luar negeri, tanpa dimarahi oleh si petugas penjaga museum).

Tapi di sisi lain, pengunjung museum memperoleh bentuk 'kenyamanan' lain. Minimnya pengawasan dari petugas museum menyebabkan pengunjung bebas menyentuh barang display. Jika seseorang penasaran dengan apa yang ada di dalam suatu lemari kuno, ia bebas membuka tutup lemari tersebut. Melihatnya saja sudah bikin jantung ini berdebar-debar, sambil berharap semoga si pengunjung tidak merusak barang tua itu. Hal ini bisa dilakukan karena memang banyak benda pajangan yang tidak diberi tali pembatas. Tapi, kalaupun ada tali pembatas, keberadaannya seolah bisa diabaikan. Ada penggunjung yang dengan nyamannya duduk di atas batu prasasti, untuk mendapatkan angle foto yang pas. Tanda larangan untuk tidak menyentuh, atau tidak memotret benda koleksi tentu saja ada. Seperti suatu asesoris yang wajib ada di setiap bangunan museum. Tapi, larangan tinggal larangan. Toh tidak ada juga petugas yang menjaga.

Melihat ini semua, saya jadi teringat dengan slogan tentang gerakan nasional cinta museum itu. Kalau memang kondisi museum seperti ini, bagaimana kita bisa mencintai museum yang ada.

Hari ini, kami meninggalkan Museum Sejarah Jakarta dengan hati trenyuh.



"Tahun Kunjung Museum 2010 merupakan sebuah momentum awal untuk memulai Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang akan dilaksanakan selama lima tahun (2010-2014). Salah satu kegiatan dalam Program GNCM tersebut adalah kegiatan Revitalisasi Museum yang bertujuan untuk mewujudkan museum Indonesia yang dinamis dan berdayaguna sesuai dengan standar ideal pengelolaan dan pemanfaatan museum. Dengan adanya program GNCM tersebut diharapkan pada 2014 akan terwujud museum Indonesia yang menarik dan informatif serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat".
(kutipan sambutan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dalam pencanangan Tahun Kunjung Museum 2010)

Membaca kata sambutan Bapak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tersebut, terbersit secercah harapan akan masa depan perbaikan citra dan fungsi museum di tanah air tercinta ini. Mudah-mudahan saja....